BALADA DIORAMA SEHARI-HARI Part 3
Ini adalah Part ke-3 dari cerita ngalor ngidul ku seputar keseharian ku di STMIK AMIK BANDUNG, Selamat Membaca...
Hari pun beranjak siang, matahari sudah tak malu lagi untuk menunjukan cahayanya yang terang benderang, waktu istirahat pun telah tiba...
Aku dan kawan-kawan ku biasa beristirahat di warung kecil tak jauh dari lokasi kampus berada, diwaktu istirahat kami biasanya memesan segelas kopi susu serta sedikit camilan ringan untuk menemani, karena warung itu kecil, dan tidak menyediakan banyak tempat duduk, kami terbiasa duduk di pinggiran jalan, depan pintu masuk menuju perumahan elite, yap.. kami menyebutnya perumahan elite, karena disetiap rumah itu ada mobil terparkir.
Kami bisa melihatnya dari balik pagar besi rumah mereka masing-masing, oleh karena itu kami menyebutnya perumahan elite, tidak ada yang begitu serius dari obrolan kami disetiap nongki (nongkrong + ngopi) kami hanya ingin saling berbagi, sedikit bertukar fikiran, dan mencari hiburan di setiap pembicaraan yang kami bicarakan, lebih sering membahas pelajaran tadi di kelas, bertanya pendapat pada kawan ku yang berbeda kelas mengenai dosen yang mengajar pada matkul tersebut, berdiskusi tentang tugas, dan hal-hal lainnya yang tak lepas dari lawakan ringan seorang teman.
Aku menikmati saat-saat seperti itu.. Beberapa kawan ku disana, kami baru saling mengenal, tetapi karena kami satu frekuensi dalan berbagai aspek, akhirnya kami bisa cepat akrab, saat pertama datang ke Bandung, aku hanya kenal pada ke dua teman ku yang berasal dari kota yang sama, aku tidak begitu pandai bergaul, aku tidak mahir dalam memulai suatu obrolan, begitupun saat aku merasa bertemu dengan orang yang tidak satu frekuensi dengan ku, aku cenderung menghindari mereka dan berinteraksi dengan mereka secukupnya saja.
Akan kujelaskan maksud dari bukan satu frekuensi, hal itu bisa dikategorikan kedalam kebiasaan seseorang, sikap seseorang, cara pandang, dan latar belakang tongkrongan yang berbeda, mungkin kurang lebih seperti itu, aku yang bukan seorang perokok, agak enggan untuk nongkrong dengan seorang perokok, karena perokok pasif itu lebih beresiko daripada perokok aktif, jadi aku cenderung menghindari nongkrong dengan kawan-kawan ku yang merokok, tetapi aku tak membenci mereka sedikit pun, mau bagaimana pun juga aku tetap menganggap mereka sebagai kawan-kawan ku.
Waktu istirahat memang tidak begitu lama, mungkin hanya sekitar 30 menit, cukup lah untuk membahas beberapa topik obrolan ngalor-ngidul, setelah itu kami masuk ke kelas masing-masing, melanjutkan pelajaran mata kuliah berikutnya, keseharian ini terus berlanjut sebelum akhirnya pandemi melanda.
Saat Pandemi sudah sampai di Indonesia, berbagai kegiatan pendidikan berubah sistemnya, dan akhirnya ditentukan oleh pemerintah bahwa kegiatan belajar mengajar di seluruh Indonesia dilakukan secara daring, kami anak perantauan akhirnya memutuskan untuk pulang kampung, karena kami pun khawatir jika masih tetap tinggal di kostan, maka akan susah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena banyak pula para pedagang yang memutuskan untuk menutup dagangan nya secara sementara.
Kegiatan belajar mengajar di kampus STMIK AMIK BANDUNG pun menjadi daring, dan dilakukan di tempat tinggal masing-masing, keseharian ku pun berubah, tak ada lagi nongkrong-nongkrong sembari menikmati secangkir kopi susu, tak ada lagi obrolan lawakan diwaktu istirahat, tak ada lagi membaca tugas di hadapan teman-teman sekelas.
Semoga pandemi segera berakhir.. dan semuanya bisa melakukan aktivitas seperti biasa lagi..
Itulah pintaku kepada Tuhan di sore hari menuju senja.. tanpa kopi dan belum mandi...
Terimakasih kepada para pembaca yang telah membaca tulisan ku ini... aku akhiri tulisanku sampai disini dulu.. nanti lanjut lagi jika Tuhan menghendaki...
Komentar
Posting Komentar