BALADA DIORAMA SEHARI-HARI Part 1

    Holla~~~ Akang Ayu disini !!! pada blog kali ini, aku akan membahas mengenai keseharianku di kampus ku tercinta Stmik Amik Bandung, aku sendiri tidak menjamin apa yang kutulis itu akan menarik untuk kau baca atau tidak, tapi aku hanya ingin berbagi sebuah cerita dan suasana yang pernah aku alami selama ngampus di STMIK AMIK BANDUNG.

    Yang kusampaikan ini murni hasil pemikiran ku, dan murni dari perasaan hatiku, mungkin tata bahasa yang ku gunakan akan sedikit puitis, setidaknya menurutku begitu, pendapatmu? aku tak tahu... maka sampaikanlah di kolom komentar apapun yang ingin kau sampaikan.

Oke aku mulai saja....

    Dipagi hari yang dingin, matahari belum terbit kala itu.. aku memulai hari ku dengan sholat shubuh berjamaah di masjid jami' Al-falah tak jauh dari tempat kostan ku dan kawan-kawan seperantauan ku, lokasi kostan ku cukup jauh dari kampus, sekitar 1.7 KM, aku dan kawan-kawan seperantauan ku dengan berat hati memilih kostan yang letaknya agak jauh dari kampus karena biayanya lebih murah, ngomong-ngomong tempat asalku dari Majalengka, teman-teman kampusku yang berasal dari Bandung banyak yang tidak tahu mengenai kota yang dijuluki sebagai kota angin itu, yap memang Majalengka hanya sebuah kota kecil, aku pun tinggal di wilayah kabupatennya bukan di wilayah pusatnya. 

    Aku dan kawan-kawanku, kami bertiga berasal dari kabupaten yang sama, namun berbeda-beda Desa, kami mengetahui mengenai STMIK AMIK BANDUNG, dari kakak ku yang mempunyai kenalan salah seorang dosen yang juga mengajar di salah satu SMK negeri di Bandung, kami bertiga merupakan murid yang mendapat program beasiswa dari kampus, kami benar-benar bersyukur dengan mendapatkan program beasiswa ini, maka kami mampu untuk berkuliah, dan keluarga kami masing-masing jadi mendapat keringanan dalam hal pengeluaran.

    Matahari pun mulai menyingsing, setelah sarapan pagi dengan semangkuk bubur yang kubeli dengan harga Rp.5000 aku dan kawan-kawan ku pun bersiap untuk berangkat ke kampus, perjalanan kami tempuh dengan berjalan kaki, 1.7 KM merupakan jarak yang dekat untuk ditempuh dengan berjalan kaki jika sudah terbiasa, di perjalanan selalu kuingat suasana yang kurasakan di pagi hari dari kota kembang ini, jalanan sudah ramai dipenuhi mobil dan motor yang berlalulalang di jalan raya, mereka punya tujuan dan kepentingannya masing-masing, sibuk sendiri-sendiri dengan kesibukan masing-masing dan tujuan dengan cita-cita yang terus membayangi.

    Aku dan kawanku memilih untuk berjalan kaki karena hal itu dapat menghemat ongkos pengeluaran sehari-sehari selama kami ngampus di STMIK AMIK BANDUNG, dan bukan hanya itu, berjalan kaki juga dapat mempercepat waktu tempuh menuju kampus, aku tak yakin jika naik mobil umum akan sampai lebih cepat, karena ada kemacetan melanda di hiruk pikuk kota kembang pada pagi harinya, aku sama sekali tidak membenci hiruk pikuk perkotaan, ataupun bisingnya suara kendaraan bermotor, ataupun banyaknya polusi yang ditimbulkan karena nya, karena aku melihat kedamaian dalam semua itu, kedamaian dan dan kebebasan dari setiap urang dalam melakukan aktivitasnya setiap hari.

    Kami bisa sampai lebih cepat ke kampus dengan berjalan kaki, karena kami menggunakan rute alternatif yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan bermotor, minusnya adalah kami tidak bisa beralasan terlambat karena macet ataupun karena ban bocor, karena memang kami hanya berjalan kaki, satu-satu nya alasan terlambat adalah mungkin karena kami berjalan terlalu santai, yap keterlambatan merupakan suatu hal yang serius jika dosen mata kuliahmu menerapkan disiplin waktu yang luar biasa, dan tentunya tidak seperti masa sekolah yang memiliki 1 aturan yang sama yang harus diikuti oleh murid, harusnya guru nya juga ikut aturan, tapi aku belum pernah lihat guru yang terlambat kena hukuman.

    Nahh ketika di kampus, aturan kelas diserahkan pada masing-masing dosen, ada dosen yang sangat mentolerir mahasiswa yang terlambat dan ada juga yang tidak, misalkan harus sudah tiba dikelas 15 menit sebelum perkuliahan dimulai,dan kami menyebutnya dosen killer, kedisiplinan memang hal yang luar biasa, rasanya nyaman jika berdisiplin tetapi juga tegang, takut akan melakukan suatu kesalahan maka kau akan kena hukuman, dalam hati kecilku aku sedikit bersyukur tidak semua dosen sangat berdisiplin seperti itu, bukan nya aku tidak suka ataupun tidak setuju, hanya saja aku tidak nyaman jika harus selalu tegang dalam setiap kelas, dasar aku.....

    Ngomong-ngomong.. aku dan kawanku belum sampai ke kampus, perjalanan yang kami tempuh melewati suatu distrik pandai besi, aku kagum pada para pekerja disana, mereka benar-benar pandai dalam menggunakan peralatan untuk membentuk suatu peralatan ataupun bagian-bagian dari kendaraan yang terbuat dari besi, ada pula yang memodifikasi bagian kendaraan dan ada pula yang membuat suatu pagar besi, prosesnya cukup panjang, hal itu dimulai dengan peleburan bijih besi tentunya, aku yakin ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan adalah 90% dari pengalaman.

    Setiap kali aku lewat ke distrik itu, aku selalu memperhatikan bagaimana mereka bekerja, mereka benar-benar menekuni apa yang mereka lakukan, aku takjub melihatnya, aku fikir indah sekali jika kau dapat bekerja sepenuh hati seperti itu apapun pekerjaannya.

Lanjut ke chapter 2 (Sesampainya di kampus)

Komentar